A Long Life Learning: Bertahan, Menghilang, Mengingat

Oleh: Ananda Musdalifah

(Source: dokumentasi pribadi)

Aku tumbuh di rumah yang bentuknya tidak pernah benar-benar menetap.


Ada masa ketika hidup terasa cukup lapang. Tempat tinggal menetap, halaman terurus, kendaraan terparkir rapi. Ada orang dewasa yang membantu pekerjaan harian di rumah. Hari-hari memiliki ritme.


Ada juga masa ketika semuanya menyusut pelan-pelan: tempat tinggal berpindah-pindah, ukuran ruangnya semakin mengecil, ritme hidup berubah. Kami tetap makan. Kami tetap sekolah. Dari luar, hidup tampak berjalan wajar, layaknya keluarga normal lainnya yang cermat menyesuaikan diri.


Sebagai anak kecil, kami terlalu gamblang diberi penjelasan untuk memahami setiap perubahan yang terjadi. Mungkin orang tuaku bermaksud agar kami cepat memahami keadaan. Menjadikan kami berpikir lebih dewasa barangkali akan mereduksi rengekan yang sering dilakukan anak-anak.


Tidak ada kalimat penenang bahwa kami tetap aman dan semua akan baik-baik saja. Yang ditunjukkan hanyalah tubuh-tubuh dewasa yang kelelahan dan aturan-aturan yang harus ditaati. Ketika keadaan menegang, rumah tidak menjadi tempat berlindung, melainkan ruang yang menuntut kewaspadaan.


Ayahku sangat bertanggung jawab, religius, dan berprinsip. Ia selalu mengusahakan dan memastikan sandang, pangan, papan, dan pendidikan kami, bahkan ketika keadaan sangat tidak mudah baginya. Ia cerdas, solutif, dan penuh petuah.


Di saat yang sama, ia membawa badai yang sering datang tanpa jadwal. Emosinya cepat menyala ketika dunia tidak berjalan sesuai aturannya. Rumah menjadi tempat yang penuh standard, tetapi miskin ruang aman terhadap kesalahan.


Aku belajar sejak kecil bahwa 'kesalahan' bukan sesuatu yang bisa dibicarakan dengan aman dan penuh kasih. Kesalahan sering datang bersama nada tinggi, udara yang menegang, dan hukuman yang membuat tubuh mengerut sebelum pikiran sempat menjelaskan.


Aku tidak akan mengurai detailnya. Cukup dikatakan bahwa kami—anak-anak di rumah itu—belajar membaca tanda-tanda: perubahan langkah, diam yang memanjang, suara pintu, dan jeda sebelum kalimat. Tubuh kami dipaksa menyimpan kalender cuaca emosional orang dewasa, yang belum mampu kami pahami seutuhnya.


Ibuku hadir dengan perannya di rumah. Saudara-saudaraku banyak. Rumah selalu ramai. Namun rasa sepi tetap menetap. Bukan sepi karena sendirian, melainkan sepi karena tidak tahu bagaimana memproses perasaan dengan terbuka.


Kasih sayang ada, tetapi jarang berbentuk kata. Ia hadir sebagai tindakan praktis: menyediakan makan agar tidak kelaparan, memastikan peraturan tetap ditaati, dan memastikan kami tetap “berfungsi”.


Aku hanya anak perempuan di urutan ketiga. Saat usiaku baru dua tahun, aku sudah punya adik. Saat usiaku baru empat tahun, aku sudah punya dua adik. Aku balita dengan dua adik. Dan di usia itu kedua kakakku memasuki masa remajanya. Kombinasi super hectic untuk setiap orang tua dengan kondisi itu.


Perasaan yang bisa kuingat, aku tidak suka bayi atau anak kecil sejak adik-adikku lahir.


Seingatku, aku dulu anak yang banyak bicara dan suka bertanya banyak hal awalnya. Tapi karena saudaraku terlalu banyak, pertanyaanku selalu terabaikan. Celoteh ceritaku selalu mental begitu saja. Perasaanku nyaris tidak tervalidasi.


Siapa yang peduli dengan ceritaku soal teman di TPA yang hobi menggigiti penghapusnya?

Siapa yang peduli dengan ceritaku kalau aku berani mencubit balik dua anak laki-laki iseng di TPA?

Siapa yang mau menjawab pertanyaanku, kenapa belajar di TPA banyak sekali nyanyian yang harus dihafal, kenapa belajar tapi banyak menyanyi?

Siapa yang mau menjawab pertanyaanku, mengapa suara dan gerak bibir artis India di TV itu bisa berbeda?


Tidak ada yang sempat menjawab. Aku dan pertanyaanku tidak begitu penting di rumah itu.

Setidaknya itu yang bisa kuingat, sampai aku bisa menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.


Dengan begitu, aku tumbuh menjadi anak yang terlihat mandiri, tenang, cuek, sekaligus menyebalkan menurut banyak orang. Aku lebih banyak menyimpan cerita dan kurang ekspresif dengan rasa bahagia. Gengsiku setinggi langit. Namun aku cepat membaca situasi. Berusaha tidak terlalu merepotkan. Tidak menuntut.


Di kepalaku mulai tertanam pelan-pelan logika sederhana: jika aku tidak terlalu terlihat dan rewel meminta bantuan, dunia akan lebih mudah mengelolaku.


Lama kelamaan prinsipku berkembang: "Aku selalu berusaha tidak terlalu merepotkan orang lain, jadi aku tidak ingin terlalu direpotkan oleh orang lain juga."


Menjadikanku sosok egois, yang sebenarnya sangat tidak kusukai.


Dan begitulah, barangkali karena di dalam tubuhku terlalu banyak memproses paradoks. Aku mulai merasakan kelelahan aneh yang menetap. Bukan lelah karena kurang tidur atau kebanyakan aktivitas, melainkan lelah yang datang dari dalam, seperti baterai yang jarang terisi penuh. Ada kekosongan yang sulit dijelaskan. Seolah hidup adalah tugas yang hanya perlu diselesaikan, bukan ruang yang bisa dinikmati.


Perasaan itu tidak muncul tiba-tiba saat dewasa. Ia sudah tumbuh terbentuk sejak kecil. Dan mungkin itulah yang paling membingungkan: bagaimana mungkin seorang anak, di rumah yang ramai, merasa begitu kesepian dan sendirian?


Relasi Orang tua–Anak: Aman yang Bersyarat


Dalam relasi kami, kehadiran Ayah terasa seperti dua sisi mata uang. Ada perlindungan dan tuntutan. Ada kecerdasan dan ketakutan. Ada petuah dan pecutan.


Sebagai anak, aku belajar mencintai sambil berjaga-jaga. Aman terasa bersyarat: selama aku patuh, selama aku tidak melawan, selama aku tidak menambah beban, maka semua baru akan terasa aman.


Ini membentuk cara tubuhku memahami otoritas dan kedekatan. Kedekatan tidak netral; ia membawa potensi koreksi, penilaian, atau hukuman. Maka, menjadi “baik-baik saja” adalah strategi. Menjadi kuat dan tahan banting adalah keharusan. Menjadi tenang adalah kamuflase.


Ketika konflik muncul, tubuh belajar lebih dulu bereaksi sebelum pikiran sempat menimbang. Jantung memacu, napas menahan, otot menegang. Reaksi-reaksi itu tersimpan dan kelak muncul kembali di ruang lain: kantor, pertemanan, relasi romantis—bahkan ketika konteksnya sudah jauh berbeda.


Relasi Dewasa: Mendekat Lalu Menjauh


Saat dewasa dan mulai menjalin relasi romansa, pola lama ikut terbawa.


Aku bisa menyukai seseorang. Aku bisa merasa hangat ketika diperhatikan. Aku merasa bahagia dipanggil dengan nama kesayangan dan lemah lembut. Disemangati.


Namun setiap kali kedekatan semakin intens dan nyata, aku merasakan perasaan menyayangi dan membutuhkan yang kian menguat, membuat ekspektasiku hadir. Aku takut setiap kali perasaan itu muncul.


Akibatnya tubuhku langsung sigap menarik diri. Aku menghilang begitu saja. Mengabaikan pesan berhari-hari. Menciptakan jarak tanpa kabar dan penjelasan memadai. Membuat orang yang kusayangi itu menyalahkan dirinya atau bertanya-tanya “apa yang salah?”


Anehnya, saat aku 'bersembunyi' seperti itu, aku menyukai momen ketika aku dicari-cari. Aku suka saat pesan masuk bertubi menanyai perasaanku. Panggilan tak terjawab beruntun memenuhi log panggilan. Entah kenapa, aku merasa berarti, aku merasa dibutuhkan, aku merasa penting untuk orang lain. Dan validasi itu membuatku tenang.


Ironis sekali, ketenanganku harus menyengsarakan perasaan orang lain. Lalu aku kembali lagi begitu saja, ceria seperti biasa, tanpa penjelasan, tanpa meminta maaf atau merasa bersalah melakukan itu.

Pola itu kerap berulang setiap kali aku merasakan perasaan yang sebenarnya aku butuhkan.


Dari luar, itu tampak seperti ketidakpedulian yang menyebalkan dan kejam. Dari dalam, yang terjadi adalah kebingungan dan ketegangan. Ada dua dorongan yang saling bertabrakan: keinginan untuk dekat dan ketakutan untuk terlalu terlihat.


Di kepalaku, ada suara yang berkata: nanti aku akan kecewa; nanti aku akan ditinggal; dia tidak sepeduli itu, manisnya di awal saja; tidak boleh terlalu cinta agar tidak terlalu sakit saat usai; aku tidak se-spesial itu baginya; jangan terlalu berharap, jangan terlihat begitu cinta, jangan terlihat terlalu peduli dan perhatian, tetap jaga perasaan sebelum semuanya rumit.


Suara-suara yang membuatku gila. Aku ingin mencintai, tapi takut saat perasaan cinta tumbuh di hatiku. Aku ingin dicintai, tapi ketakutan saat cinta menyapa.


Aku kerap bertanya-tanya dan hampir frutrasi, mengapa aku terus begini? 

Aku sangat ingin dicintai. Tetapi setiap datang sosok tulus yang terlihat begitu menyayangiku, aku merasa tidak layak menerima rasa sayang sedalam itu.  Aku butuh hidup berpasangan, melengkapi dan dilengkapi. Tetapi takut menjadi beban. Aku mendambakan kehangatan, tetapi gugup dengan intensitasnya.


Paradoks ini, sungguh teramat melelahkan.


Tidur sebagai Freeze: Menghilang Tanpa Pergi


Saat musim hidup membawaku berpindah tempat kerja dan untuk pertama kalinya aku punya tempat untuk diriku sendiri, mulailah muncul pola lain.


(Source: dokumentasi pribadi)

Pada hari-hari tertentu—terutama ketika tidak ada aktivitas luar—dunia terasa terlalu berat tanpa sebab yang jelas. Pada hari-hari itu, tidur menjadi tempat berlindung.


Dalam bahasa respons trauma, ini disebut freeze. Saat fight atau flight terasa terlalu berisiko, tubuh memilih diam. Memperlambat. Mengurangi sensasi. Tidur menjadi tombol darurat.


Jadi, tidur yang kubutuhkan bukan tidur untuk beristirahat, melainkan tidur untuk tidak ada. Untuk berhenti berpikir, berhenti mengingat. Ada masa ketika tidur biasa tidak cukup, aku menelan obat alergi semacam incidal atau cetirizine dengan efek samping kantuk yang kuat.


Saat aku mengetahui ada obat dengan efek kantuk seperti itu, entah mengapa terasa seperti angin segar. Aku membutuhkannya agar dunia bisa terasa jauh.

Bahkan sesekali aku merindukan waktu libur agar bisa tidur lelap seperti itu. Buatku tidur adalah cara paling aman untuk escape dari dunia tanpa menyalahi norma dan keyakinan. 


Aku tetap menjaga ritme ibadah sebagai jangkar, menyetel alarm beruntun agar bangun pada waktu-waktu tertentu, setengah sadar, sempoyongan. Entahlah, apakah aku melakukannya karena kebutuhan atau sekedar kebiasaan. Yang pasti, aku tidak bisa meninggalkan ritual itu.


Ada kalanya pikiranku melayang lebih jauh: betapa damainya jika bisa tidur lelap tanpa mimpi, menghilang dari dunia yang sesak ini tanpa perlu bangun lagi. Juga tanpa perlu resah dengan pertanggungjawaban atau konsekuensi surga dan neraka.


Teori: Ketika Tubuh Mengingat


Pengalaman masa kecil tidak hanya disimpan sebagai ingatan, tetapi juga sebagai pola respons tubuh. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak stabil secara emosional—meskipun kebutuhan fisiknya terpenuhi—belajar bahwa dunia sulit diprediksi. Ketika figur orang tua/pengasuh bisa hangat di satu waktu dan menegangkan di waktu lain, sistem saraf berada dalam siaga berkepanjangan.


Keadaan ini dikenal sebagai hypervigilance: kewaspadaan berlebih terhadap potensi ancaman. Dalam jangka panjang, ini melelahkan dan menggerus kapasitas menikmati hidup.


Sistem saraf kemudian mengembangkan strategi bertahan: fight, flight, freeze, dan fawn. Aku mengenali diriku dalam kombinasi fight, freeze, dan flight. Ketika intensitas emosi terlalu tinggi—baik dari luar maupun dari dalam—tubuh memilih menutup atau menjauh dan sesekali muncul emosi yang tidak beraturan.


Dalam teori attachment, pola ini sering disebut fearful-avoidant. Ada kebutuhan besar akan kedekatan, tetapi juga ketakutan besar terhadapnya. Kedekatan diasosiasikan dengan potensi kehilangan kendali atau rasa tidak aman. Maka, mendekat dan menjauh sama-sama terasa berisiko.


Naik-turunnya kondisi ekonomi pun memperkuat pola ini—bukan karena soal miskin atau kaya, melainkan ketidakpastian. Anak membutuhkan konsistensi: figur dewasa yang stabil, hadir, dan dapat diprediksi. Ketika konsistensi rapuh, tubuh belajar menyimpan energi dan bersiap untuk skenario terburuk.


Konflik Batin Religius: Antara Taat dan Lelah


Ada lapisan lain yang jarang dibicarakan: konflik batin religius. Iman memberiku jangkar, tetapi juga pertanyaan. Aku diajarkan untuk selalu bersyukur, bertahan, dan tidak menyerah. Namun pada hari-hari tertentu, aku juga lelah menggugat Tuhan—mengapa aku diciptakan dengan sistem batin yang cepat lelah dan cepat menyerap beban?


Aku menjaga ibadah bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai garis hidup. Namun aku juga belajar jujur pada diriku sendiri: taat tidak selalu berarti kuat. Kadang aku bertahan sambil gemetar dan menyumpahi hidupku sendiri.


Refleksi: Kesadaran dan Rasa Bersalah


Ketika aku mulai memahami bahasa-bahasa ini—attachment, regulasi emosi, respons trauma—yang muncul bukan kelegaan, tetapi rasa bersalah. Jika sudah tahu polanya, mengapa belum berubah? Jika sudah paham kalau menghindar itu salah, mengapa masih menghindar?


Kesadaran sering disalahpahami sebagai 'tombol ajaib'. Padahal, memahami tidak sama dengan mengubah. Tubuh tidak berubah hanya karena pikiran memahami. Ia berubah melalui pengalaman aman yang diulang—pelan, konsisten, dan sering kali membosankan.


Aku juga mulai berduka. Bukan hanya atas relasi yang gagal, tetapi atas versi diri yang seharusnya bisa tumbuh lebih ringan jika ruang tumbuhnya berbeda. Duka ini sering hadir sebagai kelelahan halus, sebagai rasa: mengapa segalanya terasa lebih berat bagiku?


Arah Pemulihan: Pelan, Konkret, dan Realistis


Pemulihan bagiku tidak berarti menjadi orang yang selalu hangat dan siap. Ia lebih mirip belajar bahasa baru—bahasa tubuhku sendiri.

Secara teori, pemulihan mencakup membangun rasa aman internal, toleransi terhadap kedekatan, dan regulasi emosi.


Dalam praktik, yang kulakukan sederhana dan tidak heroik:


Memberi nama pada perasaan, meski hanya satu kata.

Mengizinkan diri beristirahat tanpa langsung menghakimi.

Menjaga ritme hidup dan ibadah sebagai jangkar konsisten.

Mengurangi kekerasan, terutama pada diri sendiri—dalam pikiran maupun tindakan.

Meminta bantuan saat perlu, meski masih terasa sangat canggung.


Aku belum selesai. Mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Tetapi kini aku tahu: kelelahan ini bukan karena aku lemah, melainkan karena aku terlalu lama kuat menyimpan dalam sunyi.


Jika tulisan ini dibaca sebagai arsip hidup, biarlah ia menjadi catatan tentang bagaimana tubuh mengingat lebih lama daripada pikiran. Jika dibaca sebagai pelajaran, biarlah ia menjadi pengingat bahwa ketahanan punya harga, dan harga itu sering dibayar anak-anak terlalu dini.


Untuk saat ini, cukup bagiku berkata: aku masih di sini. Tidak selalu berani. Tidak selalu utuh. Tetapi setidaknya tetap memilih hadir, dari satu hari ke hari berikutnya.


****


Komentar